Aokigahara Jukai "The Suicide Forest" | Japan
- Dec 4, 2016
- 2 min read
Aokigahara Jukai adalah hutan yang terletak di kaki gunung Fuji, kurang dari 100 kilometer dari sebelah barat Tokyo. Hutan ini terbentuk 894 tahun silam dimana terjadi letusan gunung berapi, lava yang berada disekitar gunung tersebut mengering dan menyuburkan tanah disekitarnya. Hutan yang memiliki luas mencapai 30 kilometer tersebut bernama ‘Jukai’ atau Sea of the Trees (lautan pohon).
Hutan Aokigahara merupakan salah satu hutan paling terkenal di Jepang sebagai tempat populer untuk mereka yang ingin mengambil perjalanan terakhir. Setidaknya, 100 mayat ditemukan tiap tahunnya, dan terus bertambah. Angka tersebut membuat Pemerintah Jepang khawatir akan SDM yang akan melanda negeri sakura tersebut, hingga akhirnya dibuat papan peringatan yang diletakan di depan pintu masuk hutan bertuliskan, “Your life is a precious gift from your parents, please think about your parents, siblings, and children. Don’t keep it yourself, talk about your troubles” (Kehidupanmu adalah hadiah berharga dari orangtuamu, Pikirkanlah orangtuamu, saudaramu dan anakmu. Jangan dipendam, bicarakanlah mengenai masalahmu).
Meskipun pemerintah telah melakukan upaya pencegahan, namun tetap saja para penjaga hutan masih menemukan mereka yang ingin bunuh diri. Rata-rata orang yang ingin mengakhiri hidupnya akan berkemah selama beberapa hari di dalam hutan. Selama masa berkemah itulah mereka akan kembali merenungi keputusan sulit yang akan diambil. Itulah sebabnya, sering ditemukan banyak tenda kosong tak berpenghuni yang penuh dengan barang-barang “peninggalan” pemiliknya yang telah pergi.
Pelaku bunuh diri yang merasa depresi akan hidupnya datang ke dalam hutan tersebut lalu melakukan ‘aksi’nya, kebanyakan dari mereka menggantungkan diri dengan tali yang diikat ke salah satu pohon atau meminum pil tidur. Namun motif meminum pil tidur sangat jarang yang berhasil karena membutuhkan sekitar satu hari untuk mati kelelahan.
Pada zaman kuno di Jepang, bunuh diri adalah hal yang paling dikenal sebagai peringkat samurai (seppuku/hirakiri) atau kasus lain, keluarga dari kalangan miskin di Jepang membuang anggota keluarga yang sudah udzhur, selain untuk tidak merepotkan juga untuk mengurangi mulut yang harus diberi makan. Sangat berbeda dengan zaman sekarang, rakyat Jepang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena dilanda depresi dan stress berat juga beranggapan bahwa selama ini tidak ada hal baik dikehidupan mereka. Terlebih di Jepang, ada sebuah penyakit sosial yang bernama Hikikomori. Penyakit yang dapat mengancam perekonomian Negeri Sakura. Hikikomori merupakan sebuah permasalahan kondisi kesehatan dan sosial terbesar di Jepang. Para penderita Hikikomori akan mengurung diri di dalam kamar untuk jangka waktu yang lama, bahkan ada yang berlangsung hingga bertahun-tahun. Mereka mengasingkan diri dari kehidupan sosial, sendiri, dan tidak punya teman. Hikikomori adalah salah satu dari beberapa faktor rakyat Jepang untuk bunuh diri.
Selain itu, faktor yang diduga kuat terpengaruh oleh novel “Kuroi Jukai” yang ditulis oleh Seicho Matsumoto yang terbit tahun 1960. Novel ini menceritakan sepasang kekasih yang romantic memutuskan mengakhiri hidup bersama di Aokigahara Romantisme kematian di dapati diantara barang-barang yang ditemukan milik mayat, seperti buku yang menulis pedoman lengkap bunuh diri. Termasuk tulisan bahwa Aokigahara, adalah tempat yang sempurna untuk mati.




Comments